Barley /Jali / Jelai Untuk Makanan Bayi (MPASI)


Barley, keren ya namanya. Kalo bahasa Indonesianya biasa disebut dengan Jali/Jelai. Dan beda dengan jewawut/millet (dulu saya mengira barley itu ya jewawut.. hihihi.. nanti jewawut akan dibahas lagi di lain artikel yaa). Barley/Jali/Jelai biasanya digunakan untuk campuran pakan ternak dan membuat malt sebagai bahan dasar membuat bir. Tapi, bukan berarti Jali nggak bisa dikonsumsi manusia lho. Bahkan ternyata si Jali ini lebih bergizi dari beras!


Kok tiba-tiba ngomongin Jali/Jelai sih? Jadi begini ceritanya. Sudah sekian lama saya membaca buku Super Baby Food karya Ruth Yaron. Di sana memang Yaron mengajarkan untuk membuat basis bubur bayi dengan aneka grains/biji-bijian. Tujuannya adalah, memberikan kebutuhan karbohidrat kompleks sebagai sumber energi dan juga mikronutrien yang dibutuhkan bayi tanpa harus menggunakan bubur instan terfortifikasi.

Kalau "tren" yang sekarang memang beras yang ditepungkan menjadi pilihan termudah. Namun memang ada pendapat yang menentang untuk menepungkan beras karena membuat indeks glikemik (IG)nya semakin tinggi (karena memang beras sendiri IGnya emang tinggi, sih). Lalu menyarankan supaya MPASI pertama bayi memilih buah-buahan. Padahal buah yang bertepung dan/atau memiliki kalori tinggi cuman beberapa jenis saja. Akibatnya banyak diantara bayi-bayi tersebut mengalami kekurangan energi. Akibatnya ya jadi seret naik berat badannya. Dan lagi, penggunaan beras yang ditepungkan untuk MPASI hanya terjadi sekitar 4 minggu saja, setelahnya lebih enak membuat dari beras utuh karena rasanya pun lebih mantap.

Saya mencoba memahami konsep Super Porridge (SP)-nya Yaron ini dengan keadaan yang terjadi sekarang. Dalam bukunya, memang lebih baik menggunakan whole grain/biji-bijian secara utuh untuk membuat bubur bayi. Cuma, kalo masih baru banget belajar makan memang lebih memudahkan untuk menumbuk semuanya terlebih dahulu baru memasaknya jadi bubur. Nah, Barley/Jali/Jelai ini termasuk salah satu grains/biji-bijian yang dimasukkan dalam bahan SPnya Yaron (selain banyak grains/biji-bijian lain yang dia campur, just read the book ya Mama). Saya lalu mengadakan riset kecil *caelah* mencari tahu mengapa Jali dianggap OK untuk menjadi salah satu campuran makanan bayi.

Dari web nutrition data, didapatkan fakta bahwa ternyata dalam 100 gram Jali/Jelai yang belum dimasak memiliki IG yang lebih rendah dari beras putih yang belum dimasak. Selain itu, Jali juga memiliki kandungan asam lemak esensial (omega 6 dan omega 3) serta kandungan protein lebih tinggi daripada beras putih biasa. Waaaww.... Itu sebabnya Jali ditambahkan dalam bahan SP. Jali melengkapi apa yang tidak ada pada beras.

Jali/Jelai mudah sekali didapat di toko bahan makanan di pasar atau supermarket. Harganya pun murah, sekilo nggak sampai Rp. 25000 ( di pasar Tangerang ya :p). Jadi nggak ada salahnya menambahkan Jali ini dalam daftar menu basis bubur makanan bayi Mama.

Jali/Jelai ini bijinya keras sekali, kalau dimasak utuhan memang makan waktu lama. Paling cihuy kalau memasaknya pakai slow cooker (tetep ya, alat andalan saya ya ini :D) tinggal cemplung-kasih air-colok. Cara membuat sendiri tepung Jali/Jelai sama dengan cara membuat tepung beras. pertama Jali direndam kurang lebih1 jam dengan air bersih (lebih singkat daripada merendam beras putih, apalagi beras merah). Lalu dikeringkan dengan cara disangrai, setelah itu ditumbuk (bisa pakai mortar/ulekan bersih) atau masukkan dalam grinder. Supaya lebih awet, bisa sangrai sebentar sampai hasil tepungan lebih kering, ayak, simpan dalam wadah kedap udara di tempat yang dingin dan kering.

Kalau ingin masak secara utuh juga boleh, lebih baik malahan. Setelah matang baru dihaluskan dengan saringan/blender/food processor. Oh ya, rasa Jali utuh mateng itu gurih dan kenyil-kenyil, kalau sudah ditepungkan dan dibuat bubur akan menjadi bubur yang kental dan sedikit lengket. Kalau Mama ingin  mencobanya, tetap ikuti aturan tunggu 4 hari ya, bagaimanapun nggak semua anak bisa cocok dengan jenis makanan tertentu.

Selamat mencoba yaaa, semoga anak kita tetap sehat dengan real food!

Updated: 22 Juli 2012